PUBG Mobile kembali menjadi sorotan publik setelah muncul kontroversi terkait salah satu item terbaru dalam update versi 4.4 bertajuk Hero’s Crown. Item bernama “Hand of the Almighty” resmi dihapus oleh pihak pengembang setelah mendapat kritik dari komunitas pemain Muslim di berbagai negara.
Kontroversi ini langsung viral di media sosial dan forum komunitas game karena dianggap menyentuh isu sensitif terkait agama. Tidak butuh waktu lama, PUBG Mobile akhirnya memberikan permintaan maaf resmi dan menarik item tersebut dari dalam game.
Awal Mula Kontroversi “Hand of the Almighty”
Masalah bermula setelah update Hero’s Crown menghadirkan fitur collectible baru bernama Card Collection System. Dalam sistem tersebut, pemain dapat mengumpulkan kartu tertentu untuk ditukar dengan hadiah permanen seperti skin dan item eksklusif.
Salah satu kartu yang muncul adalah “Hand of the Almighty”. Dalam versi bahasa Arab, nama item tersebut disebut diterjemahkan menjadi “Al-Jabbar”, salah satu dari Asmaul Husna atau nama Allah dalam ajaran Islam.
Hal inilah yang memicu protes besar dari komunitas pemain Muslim, terutama dari wilayah Timur Tengah, Pakistan, Indonesia, hingga Filipina. Banyak pemain menganggap penggunaan istilah religius tersebut dalam game perang dinilai tidak sensitif terhadap nilai keagamaan.
PUBG Mobile Langsung Minta Maaf
Menanggapi gelombang kritik yang semakin besar, akun resmi PUBG Mobile langsung mengeluarkan pernyataan resmi pada 12 Mei 2026. Dalam pernyataannya, pihak pengembang menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh komunitas pemain.
PUBG Mobile juga memastikan bahwa item “Hand of the Almighty” telah dihapus dari game segera setelah laporan diterima.
Pihak developer menegaskan bahwa mereka menghormati semua agama dan berkomitmen menciptakan lingkungan bermain yang aman dan inklusif bagi seluruh pemain di dunia.
Selain itu, PUBG Mobile berjanji akan memperkuat proses evaluasi konten agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Reaksi Komunitas PUBG Mobile
Respons komunitas terhadap kasus ini terbagi menjadi dua kubu.
Sebagian besar pemain Muslim mendukung langkah PUBG Mobile yang cepat menghapus item tersebut. Mereka menilai tindakan developer menunjukkan rasa hormat terhadap keberagaman budaya dan agama pemain global.
Namun, ada juga sebagian pemain yang menganggap istilah “Almighty” sebenarnya memiliki arti umum dalam bahasa Inggris dan tidak secara eksklusif merujuk pada agama tertentu. Mereka menilai kontroversi ini seharusnya tidak perlu dibesar-besarkan.
Meski begitu, PUBG Mobile tetap memilih langkah aman dengan menghapus item tersebut sepenuhnya demi meredam polemik yang berkembang.
Bukan Kontroversi Pertama PUBG Mobile
Ini bukan pertama kalinya PUBG Mobile mendapat kritik terkait sensitivitas budaya dan agama.
Pada 2019, game battle royale tersebut sempat menuai kontroversi setelah menghadirkan birthday crate yang dianggap menyerupai Ka’bah. Kemudian pada 2020, mode Mysterious Jungle juga sempat diprotes karena fitur tertentu dianggap sensitif bagi pemain Muslim.
Kasus terbaru ini kembali menjadi pengingat bahwa industri game global harus lebih berhati-hati dalam menggunakan simbol, istilah, dan referensi budaya maupun agama.
Sensitivitas Budaya Jadi Tantangan Industri Game
Dengan basis pemain yang sangat besar dan tersebar di seluruh dunia, pengembang game kini dituntut lebih sensitif terhadap berbagai latar belakang budaya dan kepercayaan.
Kesalahan kecil dalam penamaan item, desain karakter, maupun simbol tertentu dapat memicu kontroversi besar di komunitas global. Karena itu, banyak developer mulai memperketat proses quality control dan cultural review sebelum merilis update baru.
PUBG Mobile sendiri menegaskan akan terus mendengarkan masukan dari komunitas demi menjaga pengalaman bermain yang nyaman bagi semua pemain.
Kesimpulan
Kontroversi item “Hand of the Almighty” di PUBG Mobile 2026 menjadi salah satu isu gaming terbesar tahun ini. Penggunaan istilah yang dianggap berkaitan dengan Asmaul Husna memicu protes luas dari komunitas Muslim global.
PUBG Mobile akhirnya mengambil langkah cepat dengan meminta maaf dan menghapus item tersebut dari dalam game. Respons cepat ini mendapat apresiasi dari banyak pemain meski tetap memunculkan perdebatan di komunitas.
Kasus ini menunjukkan bahwa sensitivitas budaya dan agama kini menjadi aspek penting dalam pengembangan game modern, terutama untuk game global dengan jutaan pemain dari berbagai negara dan latar belakang.